Proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan 2013 capai sekitar 3,2%

Turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan 2013 oleh IMF menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi mengalami perlambatan, kurs mata uang won terhadap dolar Amerika tetap menguat, prospek ekspor juga tidak cerah akibat merosotnya keadaan ekonomi internasional.

Lembaga Pengembangan Nasional Korea -KDI memperkirakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan pada tahun ini sebesar 3%, dan Kementerian Strategi dan Keuangan juga mengontrol kembali proyeksi tersebut hingga 3% pada bulan Desember lalu.

Perkiraan dari instansi keuangan yang menafsirkan proyeksi secara lebih ketat terasa lebih parah, karena proyeksinya tercatat dibawah 3% seperti 2,8% dari Bank Sentral Korea, 2,9% dari 10 bank manca negara.

Tetapi, grup global di bidang keuangan, HSBC menganalisis bahwa pertumbuhan ekonomi Korea Selatan akhir-akhir ini agak melambat, namun hal itu tidak menjadi masalah memprihatinkan. Jika menumbuhkan sektor layanan, perusahaan kecil dan menengah -UKM, serta memperbaiki efetivitas ekonomi dengan memanfaatkan SDM berkualitas, Korea Selatan dapat menjaga proyeksi pertumbuhan ekonomi rata-rata 3,4% per tahun.

Proyeksi dari instansi-instansi yang sering berubah-ubah berarti keadaan ekonomi di dunia sulit diperkirakan. Khususnya, neraca perdagangan berpengaruh penting bagi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan, sehingga proyeksi pertumbuhan Korea Selatan terus disesuaikan berdasarkan keadaan ekonomi baik di Amerika Serikat maupun Eropa dan kondisi perekonomian dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBANGUNAN EKONOMI KOREA SELATAN 1950-2010: SEBUAH KEAJAIBAN EKONOMI DI SUNGAI HAN

Rabu, 04 Januari 2012

 

Seni budaya Korea Selatan kini telah menyebar luas ke berbagai negara dan mengisi layar kaca dan pentas-pentas pertunjukan. Melalui Korean Wave ekspansi kebudayaan Korea ke seluruh dunia yang dilancarkan pemerintah, film-film drama, musik, konser dan tariannya tumbuh subur secara global merambah ke sejumlah negara di berbagai belahan dunia, sehingga menimbulkankan “Demam Korea”. Hal ini ikut berkontribusi dalam perkembangan perekonomian Korea Selatan, dimana produksi industri film dan musik tersebut di export ke negara-negara seperti Hongkong, Vietnam, Thailand, Indonesia, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin dan Timur Tengah (Pelayanan Informasi Korea, 2003:46-53). Tak kalah ketinggalan Keberhasilan ekspor Korea Selatan yang pertama terjadi pada ekspor produk industri ringan seperti tekstil dan pakaian jadi, komponen elektronik, plywood, wig, serta barang-barang perantara (produk-produk kimia, minyak bumi, kertas, dan baja) yang berlangsung dalam kurun waktu antara tahun 1964-1974 (Utomo, 1995:14). Sejak awal, strategi besar Korea Selatan adalah export oriented. Mereka harus mempersiapkan diri dan berjuang untuk merebut pasar dunia. Menurut Gustav Ranis, Korea Selatan beralih dari Substitusi impor ke orientasi ekspor sekitar tahun 1963. Sejak itu perdagangan luar negeri tersebut tidak dapat dipisahkan dari industrialisasi di Korea Selatan (Nak Song, 1993).

Menarik memang Jika membahas mengenai perekonomian Korea Selatan, mengingat pada tahun 1950-an negara ini adalah salah satu negara termiskin di dunia. Sama miskinnya dengan negara-negara termiskin di Afrika dan Asia. Ekonominya hanya bersandar pada pertanian, belum lagi sempat hancur gara-gara pendudukan Jepang dan Perang Korea. Namun dalam 4 dekade, Korea Selatan berubah cepat dari negara termiskin, menjadi salah satu Negara paling kaya dan tercanggih di dunia dengan nilai ekonomi Trilyunan dollar. Keajaiban di Sungai Han adalah sebuah istilah yang merujuk pada periode pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, industrialisasi, pencapaian teknologi, urbanisasi, pembangunan gedung-gedung pencakar langit, modernisasi, globalisasi yang terjadi di Korea Selatan dari puing-puing Perang Korea menjadi sebuah negara makmur.

Sampai dengan akhir tahun 1950-an, Korea Selatan adalah salah satu negara yang dikategorikan sebagai negara underdeveloped dimana tingginya tingkat kemiskinan dan tingkat ketergantungan pada bantuan luar negeri. Pemulihan setelah berakhirnya perang Korea belum sepenuhnya pulih sehingga tingkat tabungan domestik sangatlah kecil. Perekonomian negara bergantung pada sektor pertanian dengan nilai total ekspor US $ 41 juta dan pendapatan per kapita $ 82 saat itu. Baru pada tahun 1960-an ketika memasuki era pembangunan ekonominya, Korea Selatan memiliki struktur kelas sosial yang baik (Suwarsono-So, 1991:150). Hal yang menjadi momentum terlepasnya Korea dari lingkaran kemiskinan serta tingkat pertumbuhan ekonomi yang sustainable adalah penerapan pembangunan ekonomi lima tahunan yang dimulai dari pemerintahan Presiden Park Chung Hee.

Peran negara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Korea adalah dengan mengarahkan dan menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan untuk investasi modal, produksi, dan juga ekspor. Salah satunya adalah dengan membentuk Badan Perencanaan Ekonomi (EPB) pada bulan Juni 196. Program Repelita disusun dalam empat tahap dimulai pada tahun 1962. Tahap pertama dan kedua diarahkan untuk pembangunan industri. Tahap ketiga (1972-1976) untuk menciptakan keseimbangan antara pembangunan industri dan pertanian, dan tahap keempat (1977-1981) adalah pembangunan ekonomi yang mandiri dan pemerataan hasil pembangunan. EPB mengorganisir informasi-informasi terinci mengenai pasar internasional dan perubahan-perubahannya dari laporan-laporan yang diserahkan perusaahaan ekpor (Irwan, 1989:46-47).

Teori Modernisasi merupakan teori yang mengkaji tentang dunia ketiga dengan masyarakat tradisionalnya menuju pada modernisasi yang mengacu pada negara Barat yang dianggap sebagai negara modern. Modernisasi dianggap sebagai proses sistematik, transformasi, dan immanent (Suwarsono-So, 1991:23). Modernisasi diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang modern.

Jika kita mengacu pada teori modernisasi, upaya modernisasi dan pembangunan ekonomi Korea sebenarnya sudah dimulai pada abad ke-19, yaitu pada masa dinasti Yi, yang melakukan reformasi pertanian dan pembangunan sarana-sarana fisik kerajaan Korea pada saat itu (Richard,1989:9-10). Upaya Modernisasi inipun terlihat dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun II, dimana peranan swasta semakin diperbesar dan peran pemerintah makin diperkecil. Di periode inilah terjadi transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat industri karena struktur ekonomi mulai berubah. Perubahan ini juga seiring dengan perubahan jumlah penduduk yang berpindah mata pencaharian ke sektor industri dari sektor agraris (Ernesto, 2008:67). Selain hal itu, bila kita mencermati salah satu ciri pokok manusia modern seperti yang disebutkan oleh Inkeles bahwa manusia modern percaya terhadap ilmu pengetahuan yakni pendidikan. Berbagai upaya yang dilakukan oleh Korea Selatan untuk mengejar ketertinggalan negaranya dari negara Barat dengan cara memodernisasikan perekonomian maupun sumber daya manusianya melalui pendidikan.

Menurut Kartiwa (2011), ia menyebutkan bahwa faktor sosio-kultur yang ada pada masyarakat Korea sangat mengapresiasi pendidikan, tidak hanya sebagai sebuah sarana untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik tetapi juga sebagai bentuk pengakuan sosial, yaitu sebuah simbol kehormatan seseorang. Langkah nyata pemerintah Korea Selatan adalah dengan mengeluarkan proyek BK 21, yaitu proyek ambisius Korea Selatan untuk menciptakan masyarakat modern yang berbasis ilmu pengetahuan.  Modernisasi di Korea selatan ini terjadi pada abad ke-20 yang ditandai dengan adanya industrialisasi ekonomi yang dipimpin oleh negara. Melalui proses yang dialaminya Korea selatan telah mengejutkan dunia internasional dengan keberhasilannya menjadi salah satu negara di dunia yang memiliki tingkat perekonomian paling dinamis pada tahun 1980-an dengan mengubah dirinya menjadi negara demokratis.

Salah satu kontribusi terpenting dari pertumbuhan ekonomi tinggi Korea Selatan adalah pengaruh positifnya terhadap modernisasi sikap, cara berpikir dari tingkah laku penduduknya (Thoha:67). Ajaran Konfusianisme telah memberikan pengaruh yang begitu besar dalam proses modernisasi sosio-ekonomi dan politik dengan melihat latar belakang historis Korea Selatan yang suram dan proses yang dialaminya. Implementasi ajaran Konfusius telah memberikan sumbangan positif bagi pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam rangka proses modernisasi di Korea Selatan. Ajaran Konfusius yang dilihat sebagai faktor pertumbuhan ekonomi yang cepat di Korea Selatan adalah ajaran mengenai kepatuhan dan kesetiaan, pemahaman bahwa negara adalah agen moral yang aktif dalam pembangunan masyarakat, penghormatan atas status dan hierarki, penekanan pada pengembangan diri dan pendidikan, dan perhatian terhadap harmoni sosial (Asniah, 2007).

Dilain pihak, kita bisa juga mencermati perkembangan ekonomi Korea Selatan ini dari sudut pandang Teori Dependensi (ketergantungan). Dimana pada fase awal kemerdekaannya, Korea Selatan bergantung pada bantuan dari pihak luar. Setelah berakhirnya perang dunia II, Korea Selatan yang kemudian dibawah pendudukan Amerika Serikat mendapatkan bantuan dari PBB dan Amerika Serikat guna membangun perekonomian Korea yang telah mengalami kemerosotan. Dengan mengutip pendapat Cole dan Lyman, Koo mengatakan bahwa sejak tahun 1953 sampai tahun 1958, setiap tahunnya Korea Selatan menerima bantuan Amerika tidak kurang dari 270 Dollar As. Ini sama dengan 12 Dollar AS penghasil per kapita pertahunm atau sekitar 15% produk kotor nasional Korea ((Suwarsono-So, 1991:148). Di masa pemerintahan Sygman Rhee ini ketergantungan terhadap bantuan luar negeri, terutama bantuan dari Amerika Serikat sangat ditunjang pula oleh doktrin antikomunisme, antipati terhadap Jepang dan patriotisme inilah yang kemudian menyebabkan ketergantungan negara pada bantuan pihak asing terutama Amerika Serikat semakin tinggi.

Namun pada perkembangan selanjutnya, Korea Selatan dapat mengubah ketergantungannya menjadi sebuah ketergantungan yang dinamis, Korea Selatan berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya dan berhasil mejadi negara yang berkembang pesat dalam hal perekonomiannya. Jika dikaji melalui teori defendensi baru, Korea Selatan yang pada mulanya dikatakan sebagai negara miskin kini telah mampu mencapai pertumbuhan ekonomi dan kesentosaan politik yang lebih dari sekedar memadai. Sebagai contoh sebut saja nama Samsung, LG, Daewoo, Hyundae, SK Groups, Ssangyong, Hanbo, Lotte, dan lain sebagainya, yang kita kenal sebagai deretan chaebol raksasa Korea.

Korea Selatan bergantung penuh terhadap ekspor untuk menyokong perekonomiannya. Hal ini terlihat dalam kebijakan perekonomiannya yaitu dengan diberlakukannya Kebijakan Export Oriented Industri (EIO) Mereka harus mempersiapkan diri dan berjuang untuk merebut pasar dunia. Pada masa Park pemerintah berperan aktif mengarahkan sektor swasta khususnya chaebol untuk mewujudkan agenda pembangunan yang disusun oleh pemerintah berupa pengembangan industri manufaktur seperti elektronik, otomobil, dan semikonduktor. Berbagai produk-produk yang paling diminati sekaligus ekspor terpenting adalah barang-barang elektronik, tekstil, kapal, produk otomotif, dan baja. Walaupun pasar impor telah diliberalisasi, pasar produk pertanian masih diproteksi karena lebarnya celah harga produk pertanian dalam negeri dengan pasar internasional. Korea Selatan merupakan  Negara eksportir terbesar ke-11 dunia.  Atau menduduki eksportir terbesar ke-3 Asia setelah China dan Jepang ,  Negara dengan 97% eskpor merupakan produk manufaktur berteknologi tinggi. Negara dengan cadangan devisa terbesar ke-4 dunia. Negara dengan pertumbuhan ekspor rata-rata 30% selama 3 dekade. Nilai ekspor naik dari 3% GDP tahun 1962 menjadi 37% GDP tahun 2000 (Nusantaranews-Informasi, Fakta dan Opini, 2009). Ketergantungan pada ekspor dan impor, dan hal itu menunjukan bahwa perdagangan luar negeri menempati porsi besar dari Produk Domestik Bruto. Khususnya, krisis keuangan global baru baru ini dan resesi ekonomi akibat itu meningkatkan ketergantungan perdagangan Korea pada luar negeri, maka rasio ketergantungan Korea pada ekspor-impor mencapai kisaran 80 persen.

Surplus perdagangan Korea terus tercatat surplus selama lima belas bulan, berkat ekspor kuat Korea Selatan. Ketergantungan ekspor Korea selama tahun 2010 mencapai 87,9%, tingkat tertinggi kedua sejak krisis keuangan dunia pada tahun 2008. Pertumbuhan ekspor adalah sangat menggembirakan untuk penopang ekonomi Korea Selatan. Mesin yang mendorong pertumbuhan ekonomi Korea tidak lain adalah ekspor dan industrialisasi. Pada tahun 1960 pendapatan per kapita Korea adalah 79 dolar saja. Pada tahun 1962, pemerintah memulai pertama kali rangkaian rencana ekonomi lima-tahun untuk mempromosikan ekspor dan dua tahun kemudian, Korea Selatan sengaja mendevaluasi nilai mata uang won Korea terhadap dolar untuk meningkatkan daya saing harga produk Korea di luar negeri. Bahkan, sektor ekspor Korea menduduki peringkat ketujuh di dunia pada tahun 2010, meningkat 9.300 kali lipat daripada lima puluh tahun lalu (KBS World, 2011).

Menurut Riedel (1992), ada dua faktor bagi keberhasilan pembangunan ekonomi dan industrialisasi di Korea Selatan, yaitu pertama faktor eksogen berupa sumber daya alam, sumber daya ekternal (bantuan luar negeri Amerika Serikat), dan sumber daya manusia, kedua faktor yang berkaitan dengan peran pemerintah dan kebijakan ekonomi yang dijalankan. Rahasia Keberhasilan dan kemajuan perekonomian Korea Selatan salah satunya terletak pada etos atau budaya kerja rakyatnya. Bangsa Korea Selatan berpandangan positif dan Selalu berpandangan jauh ke depan. Secara umum bangsa Korea Selatan memiliki ciri-ciri etos kerja seperti kerja keras, disiplin, hemat, gemar menabung dan mengutamakan pendidikan. Kemajuan yang dicapai oleh Korea selatan dicapai karena motivasi tinggi, kedisiplinan, kerja keras dan perjuangan yang dilakukan oleh semua rakyat baik dari kalangan pemerintah, pengusaha dan rakyat umumnya.

Selain itu, kunci sukses pembangunan ekonomi Korea Selatan terletak pada pilihan pilihan strategi kebijakan ekonomi. memberikan perhatian besar pada pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, serta investasi agresif di kegiatan penelitian dan pengembangan. Sukses Korea Selatan juga ditopang oleh tumbuh suburnya jiwa kewiraswastaan, tenaga kerja yang sangat terlatih, pengelolaan utang luar negeri yang baik, pemerintahan yang relatif bersih, iklim perdagangan dunia yang liberal, makro-ekonomi yang solid, dan kondisi sosial-politik yang relatif bebas dari konflik. Keberhasilan Korea Selatan jelas didukung oleh budaya kerja keras dan etos kerja yang tinggi. Orang Korea Selatan dikenal sebagai pekerja keras, dengan jam kerja jauh lebih panjang dibandingkan negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) lain. Faktor lain adalah adanya kemitraan kuat antara pemerintah, swasta dan masyarakat, serta kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi dan tantangan baru (Nusantaranews-Informasi, Fakta dan Opini, 2009).

Pada tahun 2005 Korea Selatan telah berubah menjadi negara industri yang utama. Di samping merupakan pemimpin dalam akses internet kecepatan tinggi, semikonduktor memori, monitor layar datar, telepon genggam, Korea Selatan juga menduduki peringkat pertama dalam pembuatan kapal, ketiga dalam produksi ban, keempat dalam serat sintetis, kelima dalam otomotif, dan keenam dalam industri baja. Negara ini juga berada pada peringkat ke-12 dalam PDB nominal, tingkat pengangguran rendah, dan pendistribusian pendapatan yang relatif merata. Perkembangan ini terutama ditentukan lewat integrasi negara ini kepada perekonomian dunia yang modern dan berteknologi tinggi. Saat ini pendapatan perkapita Korea Selatan telah setara dengan pendapatan negara-negara Uni Eropa.

 

 

karena Korea sendiri selain maju dalam bidang industrialisasi, juga sangat membludak sekali dalam pembuatan film-filmnya, di era kekinian film korea banyak di ekspor ke beberapa negara Khususnya negara Indonesa. Di negara-negara yang diekspor hasil industri perfileman dari Korea ini, film tersebutdi sambut dengan baik oleh mereka. Hal ini bisa menunjukkan keberhasilan dari Korea Selatan baik dari industri perfileman maupun industri manufaktur yang menjadi ciri khas dari negara tersebut.
Kemajuan ekonomi Korea Selatan yang berjalan dengan sangat mengesankan sampai saat ini telah dimulai dari kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh Park Chung-hee. Korea Selatan mampu membangun kekuatan industri yang begitu dahsyat meskipun tidak didukung oleh sumber daya alam yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan pembangunan ekonomi Korea terletak pada kemampuan manusianya, terutama pada pemimpinnya berkaitan dengan strategi kebijakan yang dijalankannya. Pemerintah menyadari pentingnya industri dasar yang akan menjadi katalis bagi berkembangnya industri hilir lainnya. Keajaiban ekonomi Korea Selatan yang telah dicapai sampai saat ini tentu bukan semata-mata pada faktor pemerintahnya saja melainkan juga dukungan masyarakat Korsel itu sendiri. Budaya kerja dan etos kerja yang tinggi serta kecintaan terhadap produk-produk dalam negeri menjadikan produk-produk yang dihasilkan Korea dikonsumsi oleh pasar dalam negeri dan luar negeri.
Jika kita kaitkan dengan teori modernisasi Korea selatan ini sangat maju dengan adanya industrialisasi tekstil, perkeretaapian dan persenjataannya yang sudah sangat modern. Industri-industri utama Korea Selatan sekarang adalah otomotif, semikonduktor, elektronik, pembuatan kapal, dan baja. Korea juga dengan intens mengembangkan industri-industri strategis masa depan, seperti Nanoteknologi, Bioteknologi, Teknologi Informasi, Robotika, dan teknologi ruang angkasa. Selama kurun waktu 1980-an, Korea Selatan mengadopsi sistem kedekatan antara sektor pemerintahan dan bisnis yang termasuk juga kredit yang terarah, pembatasan impor, dan pensponsoran industri-industri khusus. Pemerintah Korea Selatan mendorong impor bahan-bahan baku mentah dan teknologi dengan mengorbankan barang konsumtif serta mendorong masyarakat untuk menabung dan melakukan investasi. Dari hal diatas kita dapat melihat berbagai upaya yang dilakukan oleh Korea Selatan untuk mengejar ketertinggalan negaranya dari negara Barat dengan cara memodernisasikan perekonomian maupun sumber daya manusianya melalui pendidikan.
Korea Selatan memang tidak memiliki sumber daya alam yang memadai oleh karena itu tingkat ketergantungan terhadap ekspor dan impor sangat tinggi, terbukti bahwa pada tahun 2010 ini ketergantungan perdagangan Korea mencapai kisaran 80 persen. Namun Korea Selatan bisa mengubah ketergantungannya menjadi ketergantungan yang dinamis yang dapat membantu menjalankan perekonomiannya dengan baik, diantaranya adalah dengan adanya Export-Oriented Industri (EIO) serta Economic Planning Board (EPB) yang diberlakukan oleh pemerintahnya. Korea selatan juga sangat pandai dengan pengelolaan ekonomi luar negri yang baik, pemerintahan yang bersih, iklim perdagangan dunia yang liberal, makro ekonomi yang solid dan kondisi sosial politik yang bebas dari konflik itulah yang mengakibatkan Korea selatan maju dalam berbagai hal terutama dalam bidang industrialisasinya.

 

 

Korea Selatan : Ekonomi Korsel tumbuh lebih pelan pada kuartal kedua ini dibandingkan harapan bank sentralnya. Hal ini memungkinkan penurunan tingkat suku bunga begitu juga kepercayaan konsumen. Meski begitu, produksi domestik bruto tumbuh 0.3% dari kuartal sebelumnya, seperti disampaikan Bank of Korea di Seoul Kamis (6/9) dan dirilis oleh financeroll.co.id

 

 

 

Ekspor melemah, pertumbuhan ekonomi Korsel melambat

Sindonews.com – Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan (Korsel) melambat pada kuartal kedua, sektor investasi dan ekspor merosot terimbas krisis utang zona euro.

Dilansir dari BBC.co.uk, Kamis (26/7/2012), Produk Domestik Bruto (PDB) Korea meningkat sebesar 0,4 persen pada periode April sampai Juni. Padahal dalam tiga bulan sebelumnya tumbuh 0,9 persen. Ekonomi tumbuh 2,4 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank sentral Korea secara tidak terduga menurunkan suku bunga utamanya hingga 3 persen dari 3,25 persen dalam pengurangan pertama selama tiga tahun.

Para analis mengatakan, bank sentral dapat menurunkan biaya pinjaman lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang. “Jika tingkat pertumbuhan ini rendah, hal itu menunjukkan kondisi yang cukup serius. Mengingat angka, saya kira bank sentral pasti akan menurunkan suku pada bulan September atau Oktober,” kata Sang-Hoon Yum dari SK Securities.

Korea Selatan, yang merupakan ekonomi terbesar keempat Asia, sangat bergantung pada ekspor untuk pertumbuhan ekonominya, dengan akuntansi sektor hampir separuh dari output.

Namun, sektor ini telah terpukul keras oleh krisis utang yang sedang berlangsung di zona euro dan pemulihan yang rapuh di Amerika Serikat (AS), yang merupakan dua pasar terbesar. Menurut Bank Sentral Korea, ekspor pada kuartal kedua turun 0,6 persen.

Analis mengatakan bahwa mengingat situasi ekonomi global, perekonomian Korea mungkin memerlukan waktu lama untuk pulih.

“Ini bukan hanya masalah Korea. Jadi sulit untuk mengatakan kapan tepatnya perekonomian Korea akan kembali bangkit,” kata Yum.

Pada saat yang sama, para pembuat kebijakan telah menemukan kesulitan untuk meningkatkan konsumsi domestik untuk mengimbangi penurunan penjualan asing. Data terbaru menunjukkan, konsumsi domestik naik hanya 0,3 persen dalam periode tertentu.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s