INTRODUCTION MICRO FINANCE

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;
mso-fareast-language:EN-US;}

Tugas usaha kecil dengan modal Rp.10.000,00

         Microfinance merupakan pendekatan pembangunan ekonomi yang dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi orang-orang  berpenghasilan rendah dan perempuan. Istilah ini mengacu pada penyediaan jasa keuangan untuk klien berpenghasilan rendah, termasuk diantarnya wiraswasta. Jasa keuangan pada umumnya termasuk tabungan dan kredit, namun beberapa organisasi keuangan mikro juga menyediakan asuransi dan layanan pembayaran (Ledgerwood, 1999). Dalam sejarahnya Microfinance lahir sebagai alternatif dari kegagalan program bantuan pemerintah yaitu kredit pedesaan untuk rumah tangga berpendapatan rendah. Kegagalan ini disebabkan oleh alokasi kredit yang bias perkotaan, biaya transaksi yang lebih tinggi, pembatasan tingkat bunga, tingkat standar yang tinggi dan terjadinya praktek korupsi (Hulme, Arun 2009).

Microfinance atau keuangan mikro, jika dilihat dari institusi yang menjalankan aktivitasnya disebut dengan istilah Lembaga Keuangan Mikro (LKM). LKM memiliki komitmen untuk melayani masyarakat yang selama ini diabaikan oleh sektor perbankan formal.  Perkembangan sektor keuangan mikro didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat miskin memiliki kapasitas untuk melaksanakan kegiatan yang menghasilkan pendapatan ekonomi tetapi dibatasi oleh kurangnya akses dan penyediaan tabungan, kredit dan fasilitas asuransi  (Hulme, Arun 2009).

Tujuan dari pengembangan LKM sebagai organisasi adalah untuk melayani kebutuhan keuangan pasar yang belum terlayani. Menurut Ledgerwood (1999), Tujuan utama dari LKM secara umum mencakup:

          Untuk mengurangi kemiskinan

          Untuk memberdayakan perempuan atau kelompok-kelompok penduduk yang kurang beruntung

          Untuk menciptakan lapangan kerja

          Untuk membantu pertumbuhan bisnis atau keragaman aktivitas mereka

          Untuk mendorong pengembangan bisnis baru.

Dalam penelitian Bank Dunia, pinjaman yang dilakukan pada aktivitas LKM, memiliki tiga tujuan (Webster, Riopelle, dan Chidzero 1996) dalam Ledgerwood (1999), yaitu:

          Untuk menciptakan lapangan kerja dan pendapatan melalui penciptaan kesempatan dan perluasan mikro.

          Untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan kelompok rentan, khususnya perempuan dan kaum miskin.

          Untuk mengurangi ketergantungan pada keluarga pedesaan, rawan kekeringan tanaman melalui diversifikasi kegiatan yang menghasilkan pendapatan mereka.

Dalam dekade saat ini, microfinance mengalami pertumbuhan pesat, khususnya di negara berkembang, terlebih dengan adanya ikon mendunia microfinance melalui aktifitas Grameen Bank atau Bank Kaum Miskin di Bangladesh. Menurut Ledgerwood (1999), terdapat beberapa alasan, mengapa microfinance mengalami pertumbuhan:

1.      Janji mensejahterakan masyarakat miskin. kegiatan keuangan mikro dapat mendukung generasi kedepan untuk memiliki pendapatan dari usaha yang dioperasikan oleh keluarga berpenghasilan rendah.

2.       Janji kesinambungan keuangan. Kegiatan keuangan mikro dapat membantu untuk membangun keuangan mandiri, bebas dari subsidi, biasanya lembaga-lembaga yang dikelola secara lokal.

3.      Potensi untuk membangun sistem tradisional. kegiatan Microfinance kadang-kadang meniru sistem tradisional (seperti arisan dan credit union). Mereka menyediakan layanan yang sama dengan cara yang sama, tetapi dengan fleksibilitas yang lebih besar, dengan harga yang lebih terjangkau untuk usaha mikro dan pada masyarakat.  Selain berkelanjutan, pelayanan yang diberikan microfinance dapat menarik perhatian klien berpenghasilan rendah.

4.      Kontribusi keuangan mikro untuk memperkuat dan memperluas sistem keuangan formal yang ada. Kegiatan microfinance yang ada dapat memperkuat lembaga keuangan formal, seperti koperasi tabungan dan kredit, jaringan koperasi kredit, bank komersial, dan bahkan negara menjalankan lembaga keuangan, dengan memperluas pasar baik untuk tabungan dan kredit yang berpotensi memiliki profitabilitas.

5.      Meningkatnya jumlah kisah sukses. Ada peningkatan jumlah orang yang berhasil dengan baik, kisah sukses inovatif dalam pengaturan yang sangat berbeda seperti di pedesaan Banglades, di perkotaan Bolivia, dan pedesaan Mali. Hal ini kontras sekali dengan catatan negara yang menjalankan lembaga keuangan khusus, yang telah menerima sejumlah besar dana selama beberapa dekade terakhir namun gagal dalam hal keberlanjutan keuangan dan tidak menjangkau masyarakat miskin.

6.      Ketersediaan produk keuangan yang lebih baik sebagai hasil dari eksperimentasi dan inovasi. Inovasi telah menunjukkan janji memecahkan sebagian besar masalah kurangnya jaminan dengan menggunakan pendekatan berbasis kelompok dan berbasis karakter; memecahkan masalah pengumpulan pembayaran, pemecahan masalah sosial dan tekanan sosial, serta janji pinjaman ulang yang lebih tinggi; dari biaya transaksi dengan memindahkan sebagian dari biaya sampai ke tingkat kelompok dan dengan meningkatkan jangkauan; merancang insentif staf untuk mencapai jangkauan yang lebih besar dan pembayaran pinjaman yang tinggi, dan menyediakan layanan tabungan yang memenuhi kebutuhan.

 

 

vTugas

       Sekarang saya akan mempresentasikan hasil dari penjualan saya, yang saya lakukan selama seminggu dengan modal sebesar Rp10.000,00 yang saya peroleh dari Bank kelas IMF Ekonomi.

 

Berikut perincian penjualan nya:

 

Hari pertama saya menjual bubur kacang hijau dengan modal Rp.10.000:

·         Kacang hijau ½ kg Rp.7.000

·         Gula pasir ¼ kg Rp.3.000

Total bahan: Rp.10.000

 

Dari bahan tersebut saya membuat bubur kacang hijau sebanyak 9 gelas. Saya menjual bubur tersebut di warung dekat rumah saya dengan harga Rp.3.000/gelas. Bubur habis terjual di hari pertama saya jualan. Saya berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp.24.000 dan ADM untuk kepemilikan warung Rp.5.000, jadi laba bersih saya adalah Rp.9.000. Total semua beserta dengan modal dan laba adalah Rp.19.000.

 

Hari kedua saya masih menjual bubur kacang hijau dengan modal Rp.19.000, untuk kali ini saya menambah bahan yaitu:

·         Kacang hijau 1kg Rp.14.000

·         Gula pasir ¼ Rp.3.000

·         Kelapa 1 butir Rp.2.000

Total bahan: Rp.19.000

 

Dari bahan tersebut saya membuat bubur kacang hijau sebanyak 18 gelas dengan harga Rp.3.500/gelas. Bubur tersisa 2 gelas dari hasil penjualan di hari kedua tersebut. Saya berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp.56.000 dan ADM untuk kepemilikan warung Rp.5.000, , jadi laba bersih saya adalah Rp. 32.000. Total semua beserta dengan modal dan laba adalah Rp.51.000.

 

Hari ketiga dengan modal Rp.51.000 saya mencoba menjual es kelapa muda di jalan Malahayati daerah pasar sehat Kajhu, dengan perincian bahan di bawah ini:

·         Kelapa muda saya beli dari kebun teman dengan harga Rp.2.000/buah (saya beli 15 buah Rp.30.000)

·         Es batu saya buat di rumah

·         Sirup Kurnia cap patung Rp.13.000

·         Plastik minyak 2 ons Rp.2.000

·         Karet pengikat 2 ons Rp.2.000

·         Pipet 1 kantong Rp.2.000

Kursi, meja, saya ambil dari rumah

Total bahan: Rp.49.000 (sisa Rp.2.000)

 

Dari bahan tersebut saya menjual kelapa muda di pinggir jalan Malahayati yang bertempat di pasar sehat Kajhu. Saya menjual dengan harga Rp.7.000/buah(+es,sirup)  dan Rp.5.000/buah (+es, tidak pakai sirup). Kelapa tersisa hanya 1 buah dari hasil penjualan saya di hari ketiga ini. Saya berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp.94.000 (12 buah terjual dengan harga Rp.7.000 dan sisa nya terjual dengan harga Rp.5000). Jadi laba bersih saya adalah Rp.45.000.

Total Rp.94.000 + Rp.2.000(uang sisa)= Rp.96.000

 

 

Hari ke empat dengan modal Rp.96.000 saya masih menjual kelapa muda dengan perincian sebagai berikut:

·         Kelapa muda saya beli dari kebun teman dengan harga Rp.2.000/buah (saya beli 25 buah Rp.50.000)

·         Es batu saya buat di rumah

·         Sirup Kurnia cap patung 2 botol Rp.26.000

·         Plastik minyak 2 ons Rp.2.000

·         Karet pengikat 2 ons Rp.2.000

·         Pipet 1 kantong Rp.2.000

Total bahan: Rp.82.000 (sisa Rp.14.000)

 

Dari bahan tersebut saya menjual es kelapa muda di tempat yang sama dan juga harga yang sama seperti kemarin yaitu Rp.7.000/buah(+es,sirup)  dan Rp.5.000/buah (+es, tidak pakai sirup). Kelapa muda terjual 21 buah di hari ke empat saya jualan dan saya berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp.141.000 (18 buah terjual dengan harga Rp.7.000 dan sisa nya terjual dengan harga Rp.5000/buah).

Laba bersih saya adalah Rp.59.000.

Total : Rp.141.000+Rp.14.000(uang sisa)= Rp.155.000

 

 

Hari ke lima saya mencoba membuka 2 usaha jualan saya dalam sehari yaitu kelapa muda dan bubur kacang hijau. Dan berikut perincian nya :

Ø  Es kelapa muda :

·         Kelapa muda 20 buah Rp.40.000

·         Es batu

·         Sirup Kurnia cap patung 2 botol Rp.26.000

·         Plastik minyak 2 ons Rp.2.000

·         Karet pengikat 2 ons Rp.2.000

·         Pipet 1 kantong Rp.2.000

Total bahan: Rp.72.000 (sisa Rp.83.000)

 

Dari bahan tersebut saya menjual kelapa dengan harga yang masih sama yaitu Rp.7.000/buah(+es,sirup)  dan Rp.5.000/buah (+es, tidak pakai sirup). Kelapa muda terjual 16 buah di hari ke lima ini dan saya berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp.110.000 (15 buah terjual dengan harga Rp.7.000 dan sisa nya terjual dengan harga Rp.5000/buah).

Jadi laba bersih saya adalah Rp.38.000

 

 

Ø  Bubur kacang hijau :

·         Kacang hijau 1kg Rp.14.000

·         Gula pasir ¼ Rp.3.000

·         Kelapa 1 butir Rp.2.000

Total bahan Rp.19.000(sisa Rp.64.000)

 

Dari bahan tersebut saya membuat bubur kacang hijau sebanyak 16 gelas dengan harga Rp.3.500/gelas. Bubur tersisa 3 gelas dari hasil penjualan di hari ke lima tersebut. Saya berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp.45.000 dan ADM untuk kepemilikan warung Rp.5.000, , jadi laba bersih saya adalah Rp. 21.000. Total semua beserta dengan modal dan laba adalah Rp.40.000.

 

Perhitungan jualan hari ke lima adalah:

·         Es kelapa muda Rp.110.000

·         Bubur kacang hijau Rp.40.000

Total : Rp.150.000+ (sisa Rp.64.000)=Rp.214.000

 

 

Saya berhasil mengumpulkan uang, dengan perhitungan sebagai berikut :

pendapatan hari pertama sebesar               Rp 19.000,00

pendapatan di hari kedua sebesar                     Rp 51.000,00

pendapatan di hari ketiga sebesar                    Rp  96.000,00

pendapatan di hari ke empat sebesar               Rp 155.000,00  

pendapatan di hari kelima sebesar              Rp214.000,00

      

total penghasilan                                                                      Rp.214.000,00

dikurangi dengan modal awal                                                   Rp 10.000,00 

laba bersih                                                                                 Rp 204.000,00

 

Demikian perincian penjualan yang saya uraikan, selama penjualan dalam satu minggu ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s